Team Work.
Satu yang dapat gue simpulkan berdasarkan beberapa minggu terakhir dalam proses pembuatan film ini, bukanlah suatu yang sulit, namun bukan juga suatu yang mudah.
"Gimana sih??! Nggak sulit tapi nggak mudah, jadi maksudnya apa?" mungkin kalian bertanya. Well, beberapa untaian kata berikut ini dapat menjelaskan makna dibalik kalimat saya sebelumnya. Or at least, Saya harap.
1. Salah satu dari teman saya ada yang me-Retweet kutipan ini:
"Motivasi seseorang pun juga ikut andil saat orang dituntut kreatif atau mereka memang ingin melakukan inovasi"
Kita harus sadar bahwa semua manusia mempunyai ego masing-masing, yang tidak bisa dipungkiri, kadang kala ia tidak selalu berada di bawah kendali tuan nya. Saat dituntut untuk bekerja sama, semua manusia memiliki rasa ingin dihormati, dibutuhkan, di apresiasi hasil kerjanya atau bahkan sekedar diakui keberadaannya. Perbedaannya hanyalah kadar dari ego di masing-masing manusia itu sendiri. Ada yang tinggi juga ada yang rendah. Disaat ada satu anggota kelompok yang merasa tidak dibutuhkan atau merasa kurang dipercaya karena hanya dilibatkan di saat-saat ia diperlukan bukan karena dibutuhkan, kebanyakan dari anggota kelompok lainnya hanya akan diam dan membiarkan ia pergi meninggalkan situasi yang kurang menguntungkan ini tanpa disertai tanggung jawab. Tidak banyak yang berani dan bisa bilang "Tolong jangan pergi, hasil kerjamu masih sangat dibutuhkan disini." untuk alasan gengsi dan harga diri akan siapa yang meminta bantuan siapa terlebih dahulu. Disinilah sosok pemimpin dibutuhkan dan empati harus berperan.
Kita harusnya bisa berani menurunkan ego kita di depan orang banyak untuk bisa meminta tolong untuk suatu bantuan kepada seseorang tanpa harus merasa gagal karena tidak dapat melakukannya sendiri. Pada akhirnya itu juga yang akan menyelamatkan kita dari repot-repot kesusahan karena keharusan bekerja di bukan bidang yang kita kuasai. Kita harusnya berani mendekatkan diri secara personal ke semua anggota kelompok, untuk mengajak keterlibatannya di suatu projek ini. SMS, BBM, dan pertemuan kelompok kadang kala memang tidak cukup. Ada individu-individu tertentu yang harus diajak secara personal sehingga ia akhirnya baru merasakan atmosfer dibutuhkan, dihargai, dan diapresiasi. Klise memang tampaknya. Tapi ini adalah kunci dan fondasi akan bagaimana Team Work ini berjalan kedepannya. Seperti saat ada orang yang tidak kita kenal, tapi ia membutuhkan tenaga kita. Lalu ia menyapa nama kita, menatap langsung mata kita, menjabat tangan kita, bertanya dengan ramah -tanpa ada rasa malu karena harus meminta- apakah kita mau membantunya. Kita disentuh ke taraf yang jauh lebih dalam dibanding sekedar mendapat jarkom yang menerangkan keberadaan kita diharapkan kehadirannya pada tanggal sekian, pukul sekian. Karena apa? Karena mereka menyentuh kita secara personal. Interaksi antara pribadi dengan pribadi yang lain. Bukan hanya antara saya dan dia. Dan kadang, hal seperti ini tidak cukup dilakukan hanya sekali atau dua kali. Terkadang, dibutuhkan kesabaran ekstra dalam mengulangi prosesnya selama beberapa kali. Namun, mengapa tidak? Jika hal ini, hal yang amat jarang mau dilakukan orang banyak ini, dapat membantu kita dari masa depresi atau frustrasi karena menanggung beban dan tanggung jawab yang diluar dari kapasitas kita sebagai individu. Karena, ada arti sendiri saat suatu proyek diberi label proyek kelompok, dan bukan individu.
Jika sudah demikian, akan timbul rasa memiliki dari masing-masing individu akan suatu proyek sedang ditangani bersama ini. Bukan sekedar suatu beban yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu tertentu. Jika ada rasa saling memiliki, akan timbul keinginan untuk saling menjaga. Menjaga agar proyek yang nantinya akan menyita bukan hanya waktu ataupun tenaga fisik, tapi juga pikiran ini, akan memberikan rasa kepuasan yang terbayar kepada setiap individu yang terlibat. Jika semuanya sudah menjaga, akan timbul rasa kepedulian yang biasanya tinggi. Kepedulian inilah yang bermain dengan motivasi. Proyek ini tidak hanya menjadi tanggung jawab yang harus seseorang emban, tapi ia akan menjadi sesuatu yang bermakna bagi masing-masing orang yang menyentuhnya. Kepedulian ini akan memunculkan rasa tanggung jawab dan rasa malu apabila seseorang tidak melakukan tugas dan kewajibannya secara maksimal sebagaimana mestinya. Kepedulian ini yang nantinya akan menyeruak kepermukaan disaat suasana suntuk dan pikiran menyerah menyelinap dalam benak. Ia akan membuat mereka kembali mempertanyakan kenapa harus menyerah dan menghancurkannya sekarang saat telah ditengah jalan? Mengapa tidak dari awal perjalanan saja sebelum semua keringat terlanjur bercucuran dan kreatifitas dituntut muncul? Ya. Pada akhirnya kepedulian, rasa memiliki dan tanggung jawab inilah yang akan menyelamatkan di penghujung jalan.
Mudah jika semua anggota bersedia melakukannya tanpa banyak mempertanyakan. Namun akan menjadi sangat sulit, apabila ada satu saja yang dengan vokalnya menyuarakan keengganannya.
2. Dalam sebuah Team Work, tidak selalu dan tidak semua anggota kelompoknya memiliki hubungan personal yang baik. Jika dalam semua Team Work itu juga semua anggotanya me-maintain ketidakharmonisan tersebut, tidak akan ada satupun hasil kerja di dunia ini yang dapat dinikmati maupun dievaluasi.
Yang saya pelajari dari beberapa minggu terakhir ini adalah suasana amat sangat menentukan keberlangsungan dari Team Work itu sendiri, apalagi hasilnya. Percaya atau tidak, energi positif sangat cepat penyebarannya. Tapi, energi negatif amatlah lebih cepat penyebarannya. Jika kita sudah bekerja dalam Team Work, disinilah kita dituntut untuk bekerja secara profesional. Meskipun status kami semua hanyalah anak SMA yang belum mengerti banyak mengenai pembuatan film, tapi tidak berarti attitude kami berhak merajalela sepertinya attitude anak remaja yang memenangkan ego dan tidak bisa mengucapkan kata maaf atau tidak berani mengaku salah tanpa disertai nada sewot. Ntah mengapa saya mempunyai keyakinan bahwa, attitude yang profesional akan menghasilkan pekerjaan yang profesional pula.
Yang dimaksud dari dituntut bekerja secara profesional sendiri adalah lupakan karakter pribadi masing-masing dan masuk ke karakter pekerja profesional. Apabila salah satu dari kita tidak memiliki hubungan baik dengan yang lainnya, lupakanlah sejenak, dan berkonsentrasilah kepada apa yang sedang kalian perjuangkan bersama itu. Jika bukan demi diri kalian sendiri, setidaknya demi orang lain di lingkungan sekitar. Karena jujur saja, suasana yang tidak nyaman itulah yang membuat saya enggan untuk terlibat lebih jauh. Suasana yang tidak nyaman itulah yang kemarin membuat saya ingin rasanya cepat-cepat proses itu berakhir. Saya jujur, tidak menikmati satupun proses dibalik layar kemarin. Perasaan menyesal telah berkata iya dan berjanji kepada diri sendiri, sempat menghantui pikiran. Mungkin suasana ini juga yang dirasakan anggota lainnya, yang menjelaskan pula mengenai masalah kekurangan tenaga yang harusnya tidak terjadi. Argumen sudah memasuki tahap tidak sehat apabila ia telah memberi dampak yang tidak baik terhadap cara kerja dan hasil kerja kita. Jika dua orang berbeda pendapat, bukan berarti yang satu salah dan yang satu benar. Disinilah Emotional Quotient kita harusnya bertindak. Ketika memasuki tahap Team Work, diharapkan semua anggota mempunyai rasa pengertian juga memaklumi yang lebih dari biasanya. Diharapkan semua anggota bersedia berkorban dan merelakan tanpa berasumsi negatif. Jika kita sudah melakukan sesuatu namun pada akhirnya itu bukan menjadi pilihan akhir, harap diketahui bahwa anggota yang lain berharap kita tidak merasa telah melakukannya dengan sia-sia. Anggota yang lain pasti berharap kita tahu bahwa semua kerja keras kita diperhitungkan dan amat sangat dihargai. Namun, ada kalanya, muncul opsi lain yang lebih baik bagi proyek itu sendiri. Saat itulah kita dituntut untuk bekerja secara ikhlas. Tidak hanya secara kata-kata namun juga secara harfiah. Bekerja secara profesional juga berarti meminimalkan kebiasaan "mengeluh". Kamu capek? Yang lain juga sama capek. Jadi tolonglah selamatkan yang lain dari keharusan mendengar keluhan-keluhan yang sama sekali tidak membantu tapi juga memperburuk keadaan.
Mudah jika semua anggota bersedia melakukannya tanpa banyak mempertanyakan. Namun akan menjadi sangat sulit, apabila ada satu saja yang dengan vokalnya menyuarakan keengganannya.
3. Jangan stuck kepada istilah rantai gajah. Mematikan sebuah ide sebelum ide itu sempat dieksekusi. Mungkin probability dari ide itu sendiri memang tidak besar keberhasilannya. Tapi dari 100% jumlah probability itu, pasti ada sekian persen kemungkinannya untuk berhasil. Meski itu hanya 0.0000 sekian persen. Mengapa tidak dicoba terlebih dahulu dan lihat hasilnya? Jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan, jangan lalu diam di tempat. Lanjutkan, dan move on ke ide yang lainnya. Stop menyesali dan menyalahkan orang lain ataupun keadaan akan suatu kegagalan. Jika hasilnya sesuai seperti yang diharapkan, itu menunjukkan semuanya itu worth a try kok.
Mudah jika semua anggota bersedia melakukannya tanpa banyak mempertanyakan. Namun akan menjadi sangat sulit, apabila ada satu saja yang dengan vokalnya menyuarakan keengganannya.
Dan lagi, mungkin film pendek ini bukanlah sesuatu yang bisa kami banggakan pada akhirnya. Karena kami harusnya bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Tapi setiap pengalaman selalu memberikan pembelajaran. Semuanya hanya tergantung kepada bagaimana setiap individu menyikapinya.
So, guys, please have a watch. Tell me what y'all think. Any positive or even negative appreciation are appreciated :)
SMANDAPicture Mempersembahkan
Film Dokumenter
SMANDA'13
*Notes:
Ini transcript dari naskah yang saya tulis untuk beberapa segmen dari film dokumenter ini.
"Ada saatnya masa-masa indah harus dilepas. Tidak digenggam dengan begitu erat. Bahwa ada saatnya kita tidak perlu berlari, tapi berhenti, melihat sekeliling, dan tersenyum. Untuk melihat, orang-orang yang duduk di sekelilingmu sekarang. Untuk melihat, seberapa jauh jarak yang telah kita tempuh dan berterima kasih, betapa setiap langkah menyimpan arti juga perubahan yang berbeda.
Sekolah.
Sesuatu yang kita udah terbiasa banget akannya, dan gak tau mesti ngerasa apa saat masa itu berakhir.
Sebelum saat ini, hari ini... Gak pernah terlintas di pikiran gimana rasanya ninggalin masa sekolah. Gimana rasanya harus meninggalkan dan kehilangan suatu rutinitas yang amat sangat lo familiar dengannya sampe di titik dimana lo berfikir masa itu gak akan pernah berakhir. Gak pernah... Ya. Gak pernah memang. Gak pernah sampe saat ini, hari ini.
Bagi sebagian orang, masa sekolah adalah highlight, the time of their life katanya. Tapi, untuk sebagian sisanya? Itu hanya suatu fase di kehidupan yang mereka harap untuk bisa dilewatkan secepat mungkin. Tapi apakah sebagian dari kalian itu sadar? Sekolah adalah comfort zone lo lo semua tanpa terkecuali. Yep. Se-miserable nya kehidupan sekolah lo, itu tetep masih jadi comfort zone yang gak pernah lo sadarin. Dateng ke sekolah - belajar - jajan di kantin - belajar - nonton bareng di kelas - maen PES - makan siang - belajar - foto-foto - belajar - ngobrol sampe lupa waktu - pulang dan begitu terus siklus hidup selama kurang lebih 4380 hari terakhir ini. Aktivitas-aktivitas yang kadang kala ada saat tertentu dimana lo benci setengah mati, tapi tetep tau what to expect setiap harinya. Teman - musuh - orang-orang yang lo nanti-nanti kehadirannya setiap pagi - orang-orang yang lo pengen buang jauh-jauh dari polusi pandangan - guru-guru - petugas sekolah - satpam - petugas kantin - sahabat - pacar - orang-orang yang walaupun udah 3 tahun tapi masih belum tau siapa dia - orang-orang yang invisible dimata lo, mereka semua adalah orang-orang yang oke-oke aja dengan keberadaan lo. Meski kadang, keberadaan lo itu gak selalu menyenangkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu memberi toleransi akan semua perilaku lo tanpa harus diminta. Mereka adalah orang-orang yang belum tentu akan lo temuin lagi begitu lo masuk ke kehidupan masyarakat yang sebenernya. Ya. Itu yang gue bilang sebagai comfort zone.
Dan sebentar lagi, kita harus meninggalkan itu. Mulai semuanya dari awal. Dari nol lagi.
Tapi jangan takut. Gue yakin kita semua akan baik-baik aja. Why? Cuz we survive high school man!
And On days like this, there are no XiiCellents, Circle Shoe, Sipdaaahhh, Setsot, Ipat, SofTai, Brosinam, Helloween, Classic, or even Sojoy --- we are SMANDA'13, united as one."
Enjoy!!!